FOLKCLGN - Sebelum
berbicara mengenai “Cetoran”, perlu disampaikan bahwa setiap tulisan yang dimuat ini merupakan
hasil penyerapan dari masyarakat yang memang pernah atau masih melestarikan
dolanan tersebut. Dengan demikian tingkat kekuatan historikal tidak dapat
dikaji gebyah uyah oleh akademisi
melaluI studi pustaka. Hal ini lantaran bagaimana pun, masyarakat memiliki
kearifan tersendiri dan kearifan tersebut melahirkan versi yang berbeda-beda
tergantung lidah, rasa, minat, dan pemahaman masyarakat tertentu dalam
menerapkan suatu dolanan. Hal ini dapat diperhatikan dengan penggunaan nama
yang berbeda, penggunaan lirik dolanan yang dinyanyikan juga kadang lain bahkan
ada yang menggunakan lirik lagu utuh ada yang hanya menggunakan sebagian.
Inilah dunia
dolanan, sama halnya dengan cerita rakyat, semisal Gunung Pinang yang
mengisahkan Dampu Awang sebagai anak durhaka di Teluk Banten sehingga kapal
yang membawa Dampu Awang diterjang badai dan tertangkup hingga lambat laut
tangkupannya tersebut berubah jadi gunung yang bernama Gunung Pinang. Jika
ingin menemukan kebenaran historikal cerira rakyat tersebut tentu saja tidak
mungkin, klasifikasinya akan berakhir pada kisah rakyat dan masuk dalam kajian
kearifan lokal.
Hal yang sama
juga didapati saat menelaah mengenai “Cetoran”, dolanan anak ini di tempat lain
dinamai “Pletekoan”, dan ada pula yang menyebut “Ceteran”. Permainan ini
menggunakan bahan dasar bambu yang dipilih benar kualitasnya agar dalam proses
pembuatan bambu tidak pecah dan saat digunakan dapat benar-benar maksimal.
Peralatan yang
dibutuhkan untuk permainan ini adalah laras bedil yang berbentuk pipa, tolak, dan peluru. Laras
bedil dan tolak terbuat dari bambu, sedangkan peluru bisa terbuat
dari kertas yang dibasahi, pentil jambu air, dll.
Panjang bambu bedil laras sekitar 30 - 40 cm dengan
diameter 1 atau 1,5 cm. Sedangkan tolak memiliki panjang yang lebih untuk
pegangan dengan panjang sekitar 10 cm. Tolak terbuat dari batangan belahan
bambu yang dihaluskan. Bambu yang dipilih adalah yang kuat dan tua agar tidak
cepat pecah.
Cara memainkan
cetoran atau pletokan ini, kita memasukan
peluru menggunakan tolak sampai ke ujung bedil laras. Setelah itu dimasukkan
peluru kedua dan ditolak dengan batang penolak. Peluru yang kedua ini memiliki
fungsi ganda. Fungsi pertama adalah sebagai klep pompa untuk menekan peluru
pertama yang akan ditembakkan. Kemudian fungsi kedua adalah menjadi peluru yang
disiapkan untuk ditembakkan berikutnya. Peluru yang ditembakkan tersebut dapat
terlontar mencapai jarak sekitar 5 meter dan memiliki arah relatif lurus.
Permainan ini
merupakan permainan yang dimainkan hampir di seluruh daerah di
Indonesia, termasuk Banten.
Nama permainan ini diambil dari bunyi yang keluar dari
mainan ini, yaitu "pletok",
yang hampir mirip dengan bunyi mainan senjata atau bedil. Permainan pletokan
biasanya dimainkan oleh anak-anak laki-laki yang ber-usia
5-13 tahun. Memainkan ini bisa dimainkan secara
berkelompok maupun individu. Sasaran tembakannya bisa berupa binatang-binatang
kecil ataupun lawan mainnya.
Waktu
permainannya tidak dapat ditentukan, karena kapan saja anak-anak dapat
memainkan selama tidak ada halangan seperti jam ngaji atau jam belajar. Paling
ramai biasanya dilakukan pada sesudah ashar hingga sebelum magrib. Bulan
purnama juga dijadikan momentum bagi anak-anak untuk beramai-ramai keluar rumah
untuk bermain cetoran.
Permainan ini
sebenarnya cukup membahayakan (masa itu tidak dianggap bahaya, karena anak-anak
masa itu tangkas dan tidak gampang menangis, tidak seperti anak-anak zaman
sekarang), karena jika permainannya menggunakan manusia sebagai objek sudah
barang tentu akan saling menembak dan saling merasakan sakitnya peluru cetoran.
Meski demikian, hal tersebut boleh dikatakan sebagai media untuk melatih
ketagkasan. Mengingat pola yang diterapkan mirip dengan pola latihan perang,
apa lagi jika dilakukan secara kelompok. Anak-anak dituntut cerdas mengatur
strategi dan pertahanan agar tidak mengalami kekalahan.
Hukuman bagi
kelompok yang kalah fariatif, tergantung kesepakatan sebelum permainan dimulai.
Ada yang harus menggendong pemenang dengan jarak gendongan yang juga sudah
ditentukan sebelumnya. Ada pula yang tanpa hukuman, cukup bersorak-sorak
gembira bagi yang menang dan yang kalah biasanya menantang untuk hari
berikutnya.
Dolanan ini
sebagaimana dolanan lainnya juga hilang ditelan modernisasi. Padahal, permainan-permainan jaman dulu, tidak sekedar permainan tetapi ada nilai-nilai edukasinya.
Faktor yang paling penting mengapa
permainan-permainan tradisional perlahan ditinggalkan, yaitu didikan orang tua. Dahulu, orang tua kita itu selalu mengajak atau mengajarkan anaknya membuat mainan
sendiri dari sandal, kayu, bambu, dan lainnya. Sehingga anak bisa kreatif dan berkreasi sendiri.
Harapannya, semoga
kelak permainan-permainan tradisional terus dilestarikan. | Adi Sudarajat
Tags:
Seni Budaya
