FOLKCLGN - Drama perampokan dan
penyekapan yang menyebabkan enam nyawa melayang di Pulomas menyisakan
kegamangan di tubuh saya. Bukan kebengisan para perampok yang menyekap sebelas
orang--yang sebagian adalah anak-anak dan perempuan--dalam kamar mandi sempit
yg menyita perhatian saya, melainkan drama evakuasi para korban yang berhasil
direkam kamera ponsel dan ditayangkan di berbagai berita televisi.
Bila kita perhatikan
dengan teliti ketika evakuasi dilakukan, ada sekitar tiga orang pria yang
berada di mulut pintu kamar mandi sambil membawa kamera ponsel dan mengabadikan
kondisi tersebut (entah mengambil gambar atau membuat rekaman video): satu berseragam security,
satu mengenakan kemeja putih, dan yang satu lagi tidak tampak jelas karena
berada di belakang pria berkemaja putih.
Sekarang bayangkan kondisinya! Ketika aparat, petugas kesehatan, dan kerabat
tengah sibuk mengevakuasi sebelas korban, mereka bertiga lebih memilih membuat
dokumentasi. Apakah mereka sadar bahwa keberadaan mereka malah menghambat
proses evakuasi karena mempersempit ruang gerak. Lalu, apakah alasan mereka
untuk tidak ikut membantu evakuasi.
Setiap Orang Adalah Jurnalis
Kejadian
serupa juga pernah terjadi di Cilegon. Masih ingat dengan kecelakan di
Perempatan Damkar yang menewaskan seorang dosen IAIN SMH Banten? Sebuah
kontainer yang lepas kendali menyeruduk belasan kendaraan (mulai angkot, motor,
hingga mobil pribadi) yang sedang menunggu lampu lalu lintas berganti warna.
Videonya tersebar luas di media sosial.
Apa yang kita lihat di video tersebut juga membuat prihatin. Dari banyaknya
orang yang menyaksikan kejadian tersebut, sedikit yang mau membantu korban.
Sisanya menyalakan kamera ponsel dan sibuk sendiri. Padahal, korban luka tidak
sedikit.Jodi, anak didik saya di SMP N 5 Cilegon yang kebetulan adalah anggota
PMR yang kebetulan (lagi) sedang mengadakan kegiatan di sekitar TKP menuturkan,
ia harus menggendong dua balita karena kurangnya anggota PMR-PMI di lokasi.Sementara
itu, orang-orang yang menyaksikan sibuk dengan ponselnya, berharap video/gambar
yang mereka upload di fb nanti akan banyak yang berkomentar atau like. Jodi
bercerita sambil sewot.
Ada benarnya ungkapan setiap orang adalah jurnalis. Setiap orang
menjalankan kerja-kerja jurnalistik dengan menayangkan dan memberitahukan orang
lain tentang aktivitasnya atau aktivitas orang lain. Media massanya adalah
pelbagai media di internet semisal facebook, twitter, instagram, path, youtube,
dan sebagainya.
Permasalahannya adalah tidak semua orang tahu etika mempublikasikan berita.
Contoh nyatanya adalah kasus penodaan agama Ahok bermula dari postingan Buni
Yani yang menayangkan video Ahok dengan caption yang sangat bertendensi (kita
lupakan hal ini).
Kembali lagi ke perihal utama. Tidak semua orang tahu etika mempublikasikan
berita. Banyak kiriman di facebook dan media sosial lainnya yang berupa berita
miring dan tidak diusahakan untuk ditegakkan (dicari kebenarannya). Ada berita
yang hanya berasal dari satu perspektif, ada lagi yang bernada provokatif,
sampai foto atau gambar yang tidak disamarkan dan berpotensi menimbulkan
kegelisaha. Atau ketakutan.
Contoh terakhir tadi sering terjadi di medsos. Kejadian terakhir yang paling
saya ingat adalah perempuan yang bunuh diri dengan membaringkan tubuhnya di rel
kereta api di stasiun merak. Banyak orang yang memposting gambar jasad korban
tanpa mengolahnya (menyamarkan). Parahnya lagi beberapa rekan saya dari
kalangan jurnalis juga ikutan menyebarkan. Jelas ini melanggar kode etik
jurnalistik.
Hal ini tampaknya harus juga menjadi perhatian dewan pers dan organisasi
wartawan agar memberikan edukasi kepada masyarakat tentang etika jurnalis,
mengingat setiap orang dapat menjadi jurnalis.
Jadi Jurnalis atau Jadi Manusia Biasa?
Memangnya
jurnalis bukan manusia biasa yah? Bukan begitu. Dalam keadaan genting,
semisal kecelakaan, bencana alam, dan kejadian massal lainnya, wartawan harus
melaksanakan tugasnya: membuat berita atau reportase. Bukan berarti wartawan
tidak punya nurani untuk membantu korban. Membuat laporan berita adalah
kewajiban kerja dan kewajiban profesi bagi wartawan. Semisal, ketika terjadi
gempa bumi yang cukup kuat di kota X, maka yang pertama kali harus dilakukan wartawan
yang ditugaskan ke kota tersebut adalah membuat reportase agar kejadian
tersebut diketahui khalayak luas. Selebihnya ia bebas melakukan dorongan
hatinya.
Hal tersebut berbeda dengan masyarakat umum. Tugas utamanya selaku mahluk
sosial adalah membantu, entah itu mengevakuasi korban selamat, mencarikan
tempat berlindung, menelepon Polisi, Tim SAR, Damkar, atau melapor kepada
pemerintah setempat. Hal-hal tersebut saya rasa lebih mulia tinimbang membuat
status di fb, merekam lalu upload di youtube, atau membuat postingan dengan
mengharap amin dan like.
Tangerang, 29 Desember
2016
FOLKCLGN - Drama perampokan dan
penyekapan yang menyebabkan enam nyawa melayang di Pulomas menyisakan
kegamangan di tubuh saya. Bukan kebengisan para perampok yang menyekap sebelas
orang--yang sebagian adalah anak-anak dan perempuan--dalam kamar mandi sempit
yg menyita perhatian saya, melainkan drama evakuasi para korban yang berhasil
direkam kamera ponsel dan ditayangkan di berbagai berita televisi.
Bila kita perhatikan
dengan teliti ketika evakuasi dilakukan, ada sekitar tiga orang pria yang
berada di mulut pintu kamar mandi sambil membawa kamera ponsel dan mengabadikan
kondisi tersebut (entah mengambil gambar atau membuat rekaman video): satu berseragam security,
satu mengenakan kemeja putih, dan yang satu lagi tidak tampak jelas karena
berada di belakang pria berkemaja putih.
Sekarang bayangkan kondisinya! Ketika aparat, petugas kesehatan, dan kerabat
tengah sibuk mengevakuasi sebelas korban, mereka bertiga lebih memilih membuat
dokumentasi. Apakah mereka sadar bahwa keberadaan mereka malah menghambat
proses evakuasi karena mempersempit ruang gerak. Lalu, apakah alasan mereka
untuk tidak ikut membantu evakuasi.
Setiap Orang Adalah Jurnalis
Kejadian
serupa juga pernah terjadi di Cilegon. Masih ingat dengan kecelakan di
Perempatan Damkar yang menewaskan seorang dosen IAIN SMH Banten? Sebuah
kontainer yang lepas kendali menyeruduk belasan kendaraan (mulai angkot, motor,
hingga mobil pribadi) yang sedang menunggu lampu lalu lintas berganti warna.
Videonya tersebar luas di media sosial.
Apa yang kita lihat di video tersebut juga membuat prihatin. Dari banyaknya
orang yang menyaksikan kejadian tersebut, sedikit yang mau membantu korban.
Sisanya menyalakan kamera ponsel dan sibuk sendiri. Padahal, korban luka tidak
sedikit.Jodi, anak didik saya di SMP N 5 Cilegon yang kebetulan adalah anggota
PMR yang kebetulan (lagi) sedang mengadakan kegiatan di sekitar TKP menuturkan,
ia harus menggendong dua balita karena kurangnya anggota PMR-PMI di lokasi.Sementara
itu, orang-orang yang menyaksikan sibuk dengan ponselnya, berharap video/gambar
yang mereka upload di fb nanti akan banyak yang berkomentar atau like. Jodi
bercerita sambil sewot.
Ada benarnya ungkapan setiap orang adalah jurnalis. Setiap orang
menjalankan kerja-kerja jurnalistik dengan menayangkan dan memberitahukan orang
lain tentang aktivitasnya atau aktivitas orang lain. Media massanya adalah
pelbagai media di internet semisal facebook, twitter, instagram, path, youtube,
dan sebagainya.
Permasalahannya adalah tidak semua orang tahu etika mempublikasikan berita.
Contoh nyatanya adalah kasus penodaan agama Ahok bermula dari postingan Buni
Yani yang menayangkan video Ahok dengan caption yang sangat bertendensi (kita
lupakan hal ini).
Kembali lagi ke perihal utama. Tidak semua orang tahu etika mempublikasikan
berita. Banyak kiriman di facebook dan media sosial lainnya yang berupa berita
miring dan tidak diusahakan untuk ditegakkan (dicari kebenarannya). Ada berita
yang hanya berasal dari satu perspektif, ada lagi yang bernada provokatif,
sampai foto atau gambar yang tidak disamarkan dan berpotensi menimbulkan
kegelisaha. Atau ketakutan.
Contoh terakhir tadi sering terjadi di medsos. Kejadian terakhir yang paling
saya ingat adalah perempuan yang bunuh diri dengan membaringkan tubuhnya di rel
kereta api di stasiun merak. Banyak orang yang memposting gambar jasad korban
tanpa mengolahnya (menyamarkan). Parahnya lagi beberapa rekan saya dari
kalangan jurnalis juga ikutan menyebarkan. Jelas ini melanggar kode etik
jurnalistik.
Hal ini tampaknya harus juga menjadi perhatian dewan pers dan organisasi
wartawan agar memberikan edukasi kepada masyarakat tentang etika jurnalis,
mengingat setiap orang dapat menjadi jurnalis.
Jadi Jurnalis atau Jadi Manusia Biasa?
Memangnya
jurnalis bukan manusia biasa yah? Bukan begitu. Dalam keadaan genting,
semisal kecelakaan, bencana alam, dan kejadian massal lainnya, wartawan harus
melaksanakan tugasnya: membuat berita atau reportase. Bukan berarti wartawan
tidak punya nurani untuk membantu korban. Membuat laporan berita adalah
kewajiban kerja dan kewajiban profesi bagi wartawan. Semisal, ketika terjadi
gempa bumi yang cukup kuat di kota X, maka yang pertama kali harus dilakukan wartawan
yang ditugaskan ke kota tersebut adalah membuat reportase agar kejadian
tersebut diketahui khalayak luas. Selebihnya ia bebas melakukan dorongan
hatinya.
Hal tersebut berbeda dengan masyarakat umum. Tugas utamanya selaku mahluk
sosial adalah membantu, entah itu mengevakuasi korban selamat, mencarikan
tempat berlindung, menelepon Polisi, Tim SAR, Damkar, atau melapor kepada
pemerintah setempat. Hal-hal tersebut saya rasa lebih mulia tinimbang membuat
status di fb, merekam lalu upload di youtube, atau membuat postingan dengan
mengharap amin dan like.
Tangerang, 29 Desember
2016
